 Sesampai di Klakah, sudah tak tertahankan betapa keroncongannya isi perut. Bayangkan, rute yang hanya 30 KM, harus dilalui selama 3 jam lebih, atau hampir sama dengan orang berjalan cepat. Maklum, begitu beratnya medan yang tak disangka-sangka. Maka ketika menemui sebuah warung makan yang cukup menarik, langsung saja tanpa bertanya sana-sini, semua peserta memesan nasi rawon atau pecel yang langsung disantap sampai habis.  Warung pak Jenggot yang terletak di depan pasar Klakah, memang cukup bersih, dan masakannya cukup lezat, apalagi kalau disantap ketika kelaparan. Hampir setengah jam menikmati makanan dan melepas lelah, perjalanan pun dilanjutkan, sekali lagi rute tak lazim masih ingin dilalui. Sehingga dari Klakah yang sejatinya hanya berjarak 18 KM, masih kurang panjang, maka dipilih rute melalui Ranu Klakah, Ranu Bedali, yang memang menyajikan pemandangan lebih menarik, disamping kendaraan tak terlalu ramai. Beruntung sekali, Mas Arif yang istrinya sedang hamil, mencari buah Sirsat pesanan istri yang lagi nyidam.  Sehingga ketika sampai di desa Ranu Bedali, langsung memotong jalur melalui Pasar Ranuyoso untuk mencari buah pesanan sang istri. Sehingga rute yang lebih panjang lagi menuju Banyuanyar harus terpotong menujuk Pasar Ranuyoso, Tegal Bangsri, Pasar Gunung Tengu, Malasan, Embong Miring dan langsung menuju Leces. Sampai di rumah waktu telah menunjukkan pukul 11.30, sehingga rute sepanjang 52 KM, kali ini harus dilalui selama 5 1/2 jam. Rute yang cukup menarik untuk dicoba oleh siapa saja yang mengaku penggemar sepeda gunung.
 Jarak Leces - Klakah yang sejatinya hanya 25 KM, jadi akan terasa berbeda bila melalui jalur yang tak biasa. Bersama beberapa crew penjelajah pencari jejak GSS sebanyak 8 orang, sabtu kemaren mencoba mencari jalur yang tak lazim tersebut. Didahului dengan start di rumah Mas Arif Santoso di Leces permai, bergerak ke arah barat melalui Pondok Wuluh, Kedung Rejo dan berbelok arah ke selatan tepat dipertigaan "Pancasila".  Dari sini, perjalanan melalui jalur off road mulai menanjak sedikit demi sedikit. Sampai 12 KM dari start, sudah tiba di kaki Gunung kecil yang disebut oleh warga sekitar sebagai Gunung Penawungan, dan ternyata daerah ini sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Lumajang.  Tak jauh dari batas desa ini terdapat pertigaan ke arah timur menuju pasar Gunung Tengu yang sangat dekat dengan jalan raya Jember - Probolinggo. Namun jalur ini dianggap biasa saja dan tanpa tantangan. Maka jalur ke arah barat yang kata orang sekitar bisa "bisa dimakan ular", karena memang jalur itu sangat jarang dilalui manusia, apalagi yang berkendaraan sepeda. Bersyukur ketika hendak menuju kesana terdapat 3 orang pencari bambu yang akan menuju desa Jenggrung.  Maka dengan bantuan mereka bertiga, jalur yang menyesatkan berhasil dihindari. Alhasil rute Penawungan - Jenggrung berjarak 4 KM harus dilalaui hampir 1.5 jam, karena sulitnya medan nan menanjak dengan jalan berbatu. Jangankan menaiki sepeda, didorongpun bikin nafas ngos-ngosan, sedangkan bekal air minum yang biasanya bisa sampai ke rumah rasanya tak cukup untuk separuh perjalanan. Sesampai desa Jenggrung, sebenarnya sudah cukup dekat dengan jalan raya Tegalbangsri, ternyata masih kurang memenuhi hasrat dan tantangan, sehingga rute diarahkan ke Selatan lagi ke arah Klakah. Sekalipun sempat hampir kesasar ke arah perkebunan Kertowono di Gucialit, akhirnya jalan raya menuju Klakah bisa dijumpai dengan susah payah.
 Sampai minggu kemaren hanya ada 3 peserta yang siap luar dalam berjuang di arena Sejawat. Mas Teguh "GIANT", Ady "SCOTT" dan Prie "PREMIER". Mas Arief "SPECIALIZED" yang sejak awal menggebu-gebu mau berangkat, akhirnya kendor juga, karena Cak Hudha tak jadi ikut serta, karena pengeluaran bulan ini membengkak buat bayar pajak kendaraan. Mas Slamet, yang asli Blitar-pun batal, karena anaknya persiapan Unas. Slamet satunya yang berprofesi driver mobil Limousine pun tak ada kabarnya. Belum lagi Pak Suhono sang penguasa tanjakan ada acara ke Semarang buat ngantar sang anak cari sekolah. Sedangkan anggota lainnya..., idem ditto. Ada yang punya hajat, nikahnya keluarga, tetangga dan kerabat. Klop sudah segala macam kendala, sehingga dengan amat sangat terpaksa, di Sejawat 3 Probolinggo tanpa perwakilan. Sekalipun teman-teman cycloholic sudah dikirim proposal, namun tak ada response. Mudah-mudahan di seri ke 4, semuanya bisa lancar dan bisa turut berpartisipasi. Mohon maaf kepada cak Armuji, yang sudah berkali-kali sms dan telpon. Sekali lagi mohon maaf. Hidup SEJAWAT..!!
 Pagi ini, ada kabar duka yang datangnya dari anggota GSS paling senior. Bp. SYAFI'I, yang dilahirkan di Pasuruan 30 Juli 1930, telah wafat dalam usia 75 tahun. Jenazah akan dikebumikan hari ini di Pemakaman Umum Leces. Sebagai manusia, beliau tentu tak pernah luput dari salah Karena itu, mari kita maafkan segala kesalahannya kepada kita semua. Dan mudah-mudahan ALLAH mengampuni segala dosanya, dan menerima semua amal ibadahnya. Yang patut kita teladani adalah semangatnya yang tetap menyala-nyala di usia yang demikian tua. Hampir dalam setiap kegiatan Tour ke luar kota beliau selalu mengikuti. Semoga kita semua bisa banyak berkaca kepada beliau dengan tetap menjaga kebugaran jasmani dan rohaninya. Karena beliau juga dikenal sangat di masjid Jami - Leces.
 Sekalipun baru pertama kali mengikuti ajang Sepeda Jelajah Wisata, karena yang pertama tidak turut, maklum belum dikenal. Bermodalkan seabreg potensi wisata alam di Probolinggo yang belum dipromosikan optimal, Pak Nyoto, nekat mengajukan diri sebagai tuan rumah pelaksanaan Sejawat ke 3. Selain Gunung Bromo yang sudah terkenal di manca negara, di Probolinggo juga terdapat wisata alam yang menarik, diantaranya Arung Jeram, Perkebunan Teh serta berbagai macam telaga yang oleh masyarakat Probolinggo disebut dengan Ranu diantaranya Ranu Bethok, Ranu Agung, Ranu Wurung, Ranu Gedhang, Sumber Air Ronggojalu dll. Selain itu sumber air hangat dan taman hidup di lereng gunung Lamongan juga cukup menarik untuk dinikmati. Selain Probolinggo, ada Tulungagung, Blitar dan Sumenep. Dan nilai lebih yang dimiliki para kompetitor adalah dukungan dari Instansi dalam ajang ini cukup besar. Ini bisa dilihat dari antusiasme peserta, dan sarana kendaraan yang mereka pakai adalah pinjaman dari Instansi Pemerintah. Sedangkan dari Pemkab Probolinggo, sampai saat ini belum tampak dukungan terhadap perkembangan olah raga sepeda yang nyata-nyata untuk meningkatkan kualitas kesehatan, mengurangi polusi dan pemanasan global serta perubahan iklim. Akhirnya, pengurus pusat Sejawat memutuskan Blitar sebagai tuan rumah Sejawat 3 yang Insya Allah akan dilaksanakan pada bulan Mei 2008.  Pak Nyoto lagi presentasi, bukan karaoke lho...
  9 orang yang mewakili Kabupaten Probolinggo dalam ajang Sepeda Jelajah Wisata (SEJAWAT) ke 2, diberangkatkan dari halte depan PT Kertas Leces pada hari Sabtu 9 Pebruari 2008 jam 06.00. Diawali dengan sambutan oleh sesepuh GSS Leces - Bp. Supardi dan disaksikan oleh lebih dari 20 orang anggota yang hadir pagi itu, perwakilan GSS yang dipimpin oleh Bp. Nyoto Ariadi berangkat menuju Sarangan. Dengan mengendarai 1 buah kendaraan untuk sepeda dibagian atas, sedangkan bagian bawah diisi para personal dan perbekalan. Sebagian foto-foto ada di Multiply
 Sesuai undangan dari Sejawat yang akan melaksanakan TOUR de SARANGAN LERENG GN. LAWU, pada tanggal 9-10 Pebruari 2008. Seluruh jajaran pengurus bergerak cepat untuk mendata siapa saja yang berkenan mengikuti acara tersebut. Undangan dari Sejawat disebar, dan hari Minggu tgl 20 Januari, seluruh anggota berkumpul di rumah Bendahara Bp. Nanang Siswantoro untuk lebih mengetahui kegiatan Sejawat dari kaset video yang dikirimkan kepada GSS. Dan Bp. Suhono yang ternyata sudah cukup mengetahui kegiatan kelompok ini melalui berita di internet, bisa menjelaskan panjang lebar tentang apa saja acara yang mungkin direncanakan panitia. Dan sampai tanggal 25 Januari 2008, peserta yang punya waktu untuk mewakili kabupaten Probolinggo cq. GSS Leces adalah sebagai berikut : 1. HARTOMO, (65 thn) 2. SUHONO, (57 thn) 3. NYOTO ARIADI, (44 thn) 4. TEGUH WAHYUDI, (44 thn) 5. SUPRIYADI, (41 thn) 6. ADI PURNOMO, (41 thn) 7. IMAM SUNTORO, (41 thn) 8. ARIF SANTOSO, (40 thn) 9. M. S. HUDHA, (38 thn) Masih dibawah kuota yang ditetapkan panitia yaitu 10 orang tiap daerah. Mudah-mudahan seluruh peserta yang mewakili Probolinggo dapat mengikuti seluruh rangkaian acara dengan baik, dan selamat sampai tujuan tanpa halangan dengan lindungan Allah SWT. Amien.
 Sudah lama ndak bersepeda dalam jumlah peserta yang cukup banyak, membuat dedengkot GSS rasanya gatal untuk menggenjot. Maklum, tour terakhir ke Lumbang sempat gagal, akibat kurangnya koordinasi, meskipun pesertanya saat itu cukup banyak, dan rutenya teramat sangat menantang. Kali ini mencoba bekerja sama dengan komunitas bersepeda lain yang ada di Probolinggo, diharapkan peserta semakin banyak dan acara berlangsung semarak. Teman-teman Cycloholic dari IPM (d/h EMOMI) salah satu operator pembangkit listrik swasta di Paiton, bersedia dengan sukarela untuk bergabung dan menjadi tuan rumah post pemberhentian. Acarapun dirancang pada tanggal 5 Januari 2008, sekaligus sebagai acara pembuka di tahun yang baru. Kendaraan dari Leces menuju Kraksaan sebagai start awal sudah dipersiapkan. Sekalipun demikian, 4 orang peserta berangkat menggenjot mulai dari Leces, yaitu Pak Suhono, Imam Suntoro, Arief Santoso dan Hudha. Di Komplek AL- Dringu, sudah ditunggu oleh Supri, Adi dan Teguh si empunya Giant. Melewati Gendng, peserta bertambah dari karyawan Sasa. Sehingga ada 10 orang yang menggenjot lebih awal dari peserta lainnya. Pukul 07.00, rombongan yang diangkut truk dari Leces tiba di Alun-alun Kota Kraksaan, padahal 10 orang penggenjot, sudah tiba setengah jam sebelumnya. Tak beberapa lama kemudian, Cycloholic-pun tiba dengan belasan anggota dan penggembira untuk bersama-sama menggenjot sepeda. Dimulai menuju ke Rangkang, Gunungjati, Besuk sampai Pakuniran, rombongan finish di Recreation Hall IPM, dan disana sambil bersantai tuan rumah sudah mempersiapkan konsumsi yang menarik sebagai pelepas dahaga, lelah dan pengganjal perut yang keroncongan sedari pagi.
 Ndak pernah update bukan berarti kami tak turun ke jalan.. Bersepeda terus, apalagi bagi para bapak-2 yang sudah pensiun, hari Selasa dan Kamis tak pernah dilewatkan tanpa mengayuh kereta anginnya. Kalaupun hari Sabtu jalan lagi, rasanya tak masalah apalagi tambah banyak temannya. Seperti hari Sabtu yang lalu tanggal 15 Desember 2007. Pesertanyapun tak sampai 15 orang.., namun kebetulan sekali mereka jago-2 nanjak, jadinya ketika diajak ke jalur yang sedikit naik o.k-o.k saja. Seperti biasa bermula di halte bus, menuju desa Kedungrejo. Dari desa ini berbelok ke selatan ke jalur jalan desa alias jalan tanah dan sedikit menanjak.  Mumpung malam sebelumnya hujan tak mengguyur, jadi jalur menuju Penawungan, Gunung Tugel jadi nikmat dilalui. Menjelang desa Penawungan, tak ada jalan lain kecuali harus mengangkat sepeda masing untuk melalui sungai berbatu, yang hari itu tak berisi air. Disini sempat tersesat di jalur buntu alias masuk ke halaman orang. Dan sekitar pukul 8, jalan aspal di kawasan desa Gunung Tengu sudah menyapa, menandakan jalan raya sudah tak terlalu jauh.  Benar juga, tak sampai 15 menit, Pasar Gunung Tengu yang ada di jalan raya Probolinggo - Jember sudah menampakan diri dengan aktifitasnya. Selanjutnya kembali ke utara menuju ke pertigaan Malasan untuk menikmati jamuan makan, di warung langganan kami. Ini asyiknya... habis nggenjot, makan jadi nikmat.
Sabtu, 9 Juni 2007 jam 5.30, mas Arif Santoso sudah berada di Lapangan Leces Permai diikuti oleh Hudha, kemudian datang pak Suhono yang sudah melalui usia pensiun alias 56 tahun, sekaligus sebagai peserta tertua dalam perjalanan kali ini. Memang tidak semua anggota GSS Leces tidak diajak dalam perjalanan kali ini, dikarenakan sebagian besar anggota masih trauma pada saat pelaksanaan Tour to Lumbang beberapa waktu yang lalu. Pemberitahuan pun hanya terucap dari mulut ke mulut, itupun hanya kepada beberapa anggota yang sudah terbukti mampu untuk diajak mengarungi berat-nya medan tanjakan dan turunan di menuju Lumbang. Tepat pukul 5.45, sudah 6 orang siap berangkat ke tujuan, dari semula 7 orang yang akan ikut 1 diantaranya yaitu mas Marwan membatalkan niatnya meskipun sudah mengenakan jersey kegemarannya.  Dari Leces Permai menuju Pondok Wuluh, Besuk sampai Kemuning. Dilanjutkan ke utara menuju Patokan, terus hingga pasar Patalan, dilalui dengan kecepatan sedang dan tanpa hambatan berarti. Saat di Patokan 2 peserta dari Kota Probolinggo ikut bergabung yaitu Mas Adi dan Mas Teguh. Sehingga menjadi 8 orang dianataranya adalah mas Martono, mas Imam dan mas Supri. Lepas dari pasar Patalan, tanjakan menuju Sukapura-Bromo sudah siap menanti. Bahkan tak sampai 1 KM dari, posisi gigi harus diatur ke yang paling ringan. Namun demikian, semuanya masih berada dalam rombongan besar. Sampai kemudian ± 3 KM, terjadi kecelakaan 2 sepeda motor tepat disamping rombongan kami, sehingga mas Hudha dan pak Suhono menghentikan kendaraan untuk ikut membantu salah satu korban yang terjatuh. Sementara peserta lainnya terus melanjutkan perjalanan karena sang korban tampaknya tidak mengalami luka-2, hanya saja sepeda motornya mengalami kerusakan cukup parah.  Sesampai di pertigaan Boto, 3 orang telah sampai lebih dulu yaitu mas Adi, mas Imam dan mas Martono, menunggu yang tercecer di belakang yaitu mas Arief yang menemani pak Suhono, dan paling buncit mas Hudha. 2 orang lainnya yaitu mas Supri dan mas Teguh tak tampak di pos Boto yang sudah disepakati semula.  Ternyata sesuai informasi 2 orang pengendara sepeda motor yang kebetulan lewat di depan kami, mereka berdua terus naik menuju Sukapura. Sekalipun tidak terlalu jauh, lumayan juga waktu menunggu sehingga disiapkan untuk mengisi bekal dan melemaskan otot-2. Karena jalur berikutnya sangat menantang dan membutuhkan konsentrasi lebih tinggi.
 Perubahan rute ternyata juga membuat ada kendala, 1 orang sudah berada di Lumbang yaitu pak Syafii, yang tadinya diangkut pick up Chevrolet. Untung saja pak Habir, kali ini datang sebagai penyelamat, dengan menggunakan Jupiter MX miliknya mas Adi dan Marwan menjemput pak Tua yang tak pernah merasa tua ini. Kali ini pak Habir, tidak bersepeda ria, karena mendengar rute tanjakan yang menakutkan, namun beliau sangat ingin berkumpul-kumpul dengan komunitas yang telah mendarah daging ini. Ternyata sang penjemput pak Syafii mendapatkan buruan lain yaitu Mas Supriyadi yang berangkat lebih siang namun melalui jalur lintas yang lebih pendek. Lepas dari pos Purut, jalanan menurun tajam dan berkelok-kelok, sedangkan pemandangan sawah hijau membentang di kiri dan kanan jalan.  Sampai akhirnya memasuki kawasan hutan jati, tanjakan tajam hampir 50 derajat menyapa. Dan korban pun mulai berjatuhan. Diawali pak Supardi, yang juga sebagai sesepuh, mengalami kram di kedua kakinya, dilanjutkan dengan pak Miswi, langsung menggeletakkan badannya tanpa menghiraukan sepedanya terjatuh.  Tindakan emergency diberikan, dengan melemaskan kembali otot-otot yang kaku, dan ternyata memakan waktu hampir 15 menit, karena usia beliau berdua yang sudah lanjut. Setelah itu, hampir setiap tanjakan, kaki pak Supardi kambuh kramnya, sedangkan pak Miswi sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Akan tetapi korban baru pun mulai jatuh, yaitu Pak Bambang Hariyadi. "terlalu pede', katanya mengomentari keikutsertaannya kali ini, karena sudah hampir enam bulan beliau tak bersepeda, sejak terakhir mengikuti tour ke Paiton.  Sekalipun dengan perlahan, mereka bertiga tetap mengusahakan diri untuk terus melaju, paling tidak sampai di Pos dadakan di Pasar Muneng untuk mengganjal perut dengan sajian sate kambing yang sudah menanti. Pukul 10.30, seluruh peserta sudah sampai di warung sate yang sudah sering menjadi langganan, kendati demikian, sang pemilik warung juga terkejut, karena tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, disamping peserta kali ini lebih banyak dibanding kegiatan rutin biasanya.  Dengan nasi yang masih panas, 10 tusuk sate kambing bahkan beberapa diantaranya menambah menu dengan gulai, menjadi hiburan tersendiri dibalik kegagalan tour to Lumbang kali ini. Pukul 11.00, seluruh peserta sudah menyelesaikan urusan perutnya, dan rombongan pun kembali pulang ke Leces.  Sekalipun demikian rute pulang kali ini bukannya tanpa hambatan, selain beberapa anggota berbencar mencari jalur favoritnya, anggota yang mengalami kejang khususnya Pak Supardi dan Pak Bambang Hariyadi sering kambuh, sehingga rombongan seringkali harus menghentikan laju sepedanya, untuk memberikan pertolongan. Bahkan Pak Supardi pun harus di tarik dengan menggunakan tali tambang oleh mas Supriyadi mulai dari desa Tunggak Cerme sampai Jalan Bantaran.  Alhamdulillah, sekalipun tour kali ini, boleh dikatakan gagal untuk sampai di tujuan yang telah direncanakan, namun paling tidak bisa memberikan gambaran tentang rute tanjakan yang bisa digunakan sebagai alternatif dan khususnya lokasinya masih berada di wilayah kabupaten Probolinggo.
 Tanjakan lumayan menjadi bayangan, disamping rute yang diperkirakan mencapai 65 KM, menjadi tantangan atau malah menjadi hantu yang menakutkan. Terbukti hanya 38 orang mengikuti acara yang digagas oleh Pak Suhono kali ini. Bagi yang tak mengikuti, banyak kendala menjadi alasan, mulai kerjaan yang tak bisa ditinggal, acara keluarga keluar kota, atau urusan kampung yang tiada henti. Akan tetapi bagi yang sudah tergila-gila, waktu kerja pun memilih cuti seperti yang dilakukan oleh Pak Ajib, Mas Imam Suntoro maupun Pak Bambang Hariyadi. Sedangkan lainnya, sebagian besar sedang libur, dan sebagian lagi memang tidak memiliki kegiatan rutin karena memang sudah pensiun.  Tepat pukul 5.45, rombongan berangkat dari halte bus PT Kertas Leces, sesuai rute yang ditentukan yaitu menuju Kemuning, Patokan, Patalan, Muneng dan Ngepos di Jangur. Di pos ini panitia sudah menyiapkan snack untuk pengganjal perut, karena setelahnya rute masih sangat panjang dan banyak tanjakan. Dalam perjalanan menuju pos I, berbagai kendala mulai menyapa, diantaranya pedal milik Pak Suhono terlepas, padahal sang pedal terhitung masih baru, dan beberapa hari lalu disetel di bengkel. Terpaksa sambil jalan, tengok kiri-kanan untuk mencari toko spare part sepeda untuk mencari pengganti sang pedal pengganti.  Selepas Jangur, menuju Sumurwati, Ambulu, Sumberbendo sampai Wringianom jalan desa mulus beraspal tanpa hambatan, sekalipun kadang kala harus melewati jembatan yang mungkin dibangun darurat dari besi ataupun papan kayu. Sepertinya datar-datar saja tanpa kendala sekalipun kilometer sudah menunjuk angka 45. Memasuki desa Wringinanom yang masuk wilayah kecamatan Tongas, sedikit tanjakan mulai menyapa, dan satu insiden terjadi kala ban belakang sepeda pak Dalip, terperosok ke bahu jalan yang posisinya lebih rendah dari jalan aspal. Akibatnya sepeda tak bisa dikendalikan, dan sang pengemudipun terjengkang, sampai kacamatanya terlepas. Untung saja beliau tidak mengalami luka-luka serius, sehingga masih bisa melanjutkan perjalanan yang ternyata sisa menuju tujuan dipenuhi dengan tanjakan, tanjakan dan sekali-lagi tanjakan.  Lho kapann turunnya..?? "Nanti kalau sudah mau pulang dari finish di Lumbang, baru kita turun" sahut mas Adi "Scott" Brewok yang ternyata sangat mengenal seluk beluk rute ini. Kayuhan diteruskan, nafas tersengal-sengal tak dihiraukan, sampai posisi gigi sudah paling rendah, namun tanjakan didepan tak jua sirna. Memang sesekali ada jalan datar yang bisa digunakan untuk mengendorkan kayuhan, atau bahkan sebagai ancang-ancang, karena tanjakan didepan tak kalah menantang dibanding sebelumnya. Kalau sudah begini, pilihan sebagai Tuntun Bike menggantikan Mountain Bike akan lebih bijaksana, khususnya bagi peserta yang usianya sudah lanjut. Atau bahkan On Pick up Bike tak usah malu-malu dipilih seperti yang dilakukan oleh salah seorang peserta tertua yaitu bapak Syafii, dan dengan bangga beliau berkoar sudah sampai tujuan di Lumbang paling awal.  Rombongan pertama yang terdiri dari Adi, Teguh, Arief, Marwan, Bambang Setiawan,Alex dan Hudha lebih dulu mencapai pos terakhir di desa Purut atau lebih kurang 6 KM sebelum finish di Lumbang. Peserta lainnya tercecer di belakang sejak memasuki tanjakan demi tanjakan, namun kabar kurang sedap menghampiri.  Rencananya di Lumbang rombongan akan finish di rumah mbak I'in, sekaligus disiapkan segala sesuatu sebagai bekal kembali ke Leces, namun kesalahan komunikasi terjadi, sehingga hari itu sang rumah tidak siap untuk menjamu para tamu yang datang berombongan.  Mendengar kabar tak nyaman membuat dua orang turun semangatnya, dan memilih balik kanan untuk kembali pulang dengan menyisir rute yang telah dilalui sebelumnya. Namun sebagian besar peserta terus melaju, sekalipun sepeda semakin jarang dikayuh, karena tanjakan tajam tanpa kompromi.  Setelah seluruh peserta sampai di pos Purut, dan dibicarakan segala untung ruginya, dengan sangat terpaksa rute kali ini tidak dilanjutkan, dan rombongan harus belok kiri kembali ke rumah dengan melalui hutan jati di kawasan desa Purut.
 Lumbang adalah salah satu daerah dataran tinggi terletak di sebelah barat kota Probolinggo selain dataran tinggi Bromo. Awalnya daerah ini akan diplot sebagai daerah wisata guna menunjang keberadaan Air Terjun Madakaripura. Disana juga tersedia fasilitas bumi perkemahan yang sangat luas, dan dikelilingi hutan pinus, dan udara yang cukup segar karena memang jauh dari polusi. Kali ini, atas inisiatif salah seorang anggota senior Pak SUHONO, akan diadakan tour menuju salah satu tempat wisata tersebut. Selain letaknya yang berada di ketinggian ± 300 meter dpl, jalan yang harus dilalui sangat banyak tantangan diantaranya, jalan yang berkelok-kelok, makadam, jalan tanah pedesaan, dan tentu saja tanjakan ringan bervariasi yang sangat menantang. Acara tersebut Insya Allah akan dilaksnakan pada : Hari : Sabtu, 24 Maret 2007 Start : Dari Halte bus PT Kertas Leces Jam : 05.30 tepat Rute yang akan dilalui diantaranya : Besuk - Patokan - Tempuran - Tunggak Cerme - Patalan - Sepuhgempol - Muneng - Laweyan - Jangur - Mentor - Sumurwati - Purut - Sentul - Lumbang. Kembalinya melalui rute : Wonogoro - Plangbesi - Boto - Patalan - Tunggak Cerme - Tempuran - Patokan - Besuk dan kembali ke Leces Mudah-mudahan acara tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar Mohon doa restunya
 Rapat akhirnya dibuka jam 10.00, padahal sesuai telpon mas Joko Wahyudi, di tanjakan Arsongo masih ada sembilan orang yang tercecer. Lha kalau nunggu mereka, bisa-2 tambah kesiangan tur kepanasan. Setelah didahului doa bersama, acara dilanjutkan presentasi “Bersepeda” yang baik yang kali ini disampaikan oleh Pak Syamsul Anam dari Polygon Insera Sidoarjo. Mulai dari anatomi sepeda, tips memilih sepeda, sampai bersepeda yang baik dikupas tuntas, sekalipun demikian, banyak anggota yang kurang puas untuk menambah wawasannya.  Buktinya ketika dibuka sesi tanya jawab, pertanyaan silih berganti dari hal yang umum sampai dengan hal teknis ditanyakan betubi-tubi, akibatnya sang ‘presenter” kuwalahan dan harus dibantu oleh Pak Wenson untuk menjawab pertanyaan khususnya dari anggota yang duduk didekatnya. Ketika acara presentasi baru dimulai, rombongan terakhir yang sempat “tercecer” di Arsongo sudah sampai, dan langsung nimbrung bersama rekan-rekan yang lain.  Setelah 1 jam penuh, mengupas tuntas tentang sepeda dan segala sesuatu tentangnya, acara dilanjutkan dengan rencana tour yang Insya Allah akan dilaksanakan pada bulan Maret 2007, dan disepakati tour kali ini mengambil rute ke selatan, yang artinya bisa ke Lumajang, Pasirian, Jatiroto, Yosowilangon, Jember atau dimana saja sambil menunggu hasil survey lokasi. Dan tepat pukul 11.30, seluruh rangkaian acara telah selesai dilaksanakan, dengan harapan, seluruh anggota dapat mengikuti rangkaian tour tahun 2007 dengan senang, gembira, kompak dan penuh rasa persaudaraan.
 Rapat.. kumpul-kumpul… omong-omong… meeting.. presentasi atau apalah namanya dalam istilah perbahasaan yang semakin berkembang, yang semangkin banyak istilah baik yang resmi, plesetan, prokem, bahasa gaul, lan sak panunggalane. Yang penting maksudnya itu, ngajak kumpul, omong sana sini, cari kesepakatan, lantas makan dan jangan lupa doa dulu…. Begitulah intinya yang terjadi Sabtu 3 Pebruari kemaren. 50 orang anggota GSS Leces, berkumpul di rumah mas Hudha di Leces Permai I/08 yang kali ini dengan sangat “berbahagia” didapuk menjadi tuan rumah perihal yang tersebut di alinea pertama.  Dan lazimnya orang rapat bersafari, berdasi, dan dapat bagian amplopan, tidak demikian dengan yang ini, jangankan berbaju necis bak pragawan, datang pun berkaos, penuh keringat, dan bau-nya yang tumplek blek jadi satu. Maklum sebelum acara rapat, pemanasannya bersepeda lebih kurang 40 KM melalui tanjankan Patalan, Arsongo dan Kuripan. Alhasil, setelah start dari Halte PT Kertas Leces jam 5.45 (molor 15 menit, maklum wong Indonesia je…) rombongan pertama yang 3 orang sudah sampai di Leces Permai jam 07.00. Wah cepet sekali..?? Iya lha wong sampe di pos I pertigaan Kemuning yang berjarak lebih kurang 15 kilo pergi pulang sudah balik kanan, alias kembali. Alasannya mau bantu-bantu tuan rumah buat nyiapin tempat rapat…, heeeee boleh juga. Jam 08.30, datang lagi rombongan ke 2 yang terdiri dari para manula bersemangat baja diantaranya pak Anshori (53), Pak Seto (57), Pak Matrupi (71), mbah Pardi (76) dll dateng.  Ini juga ndak kalah o.k-nya, tapi setelah ditanya, ternyata dari pertigaan Patalan balik kucing juga. Lha wong nafasnya senin – kemis, mau di teruskan nanti ndak sampe Jumat. Padahal kalau ditanya ngakunya “dengkulku masih kuat lho..” Jam 9, barulah satu persatu anggota rombongan yang sudah melalui rute sebenarnya berdatangan, dan diantaranya terdapat mas Syamsul Anam dari Departemen Promosi PT Polygon Insera. “Waduh…, lumayan juga rutenya, ndak nemu seperti ini di Sidoarjo”, kata beliau. Iya mas, lha wong Sidoarjo ndak punya gunung, paling-paling adanya gunung lumpur eks Lapindo. 15 kemudian, giliran pak Wenson Departemen Marketing PT Polygon Insera pun tiba. Tak ada komentar, paling-paling senyum khasnya yang muncul. Ternyata menurut pengakuan pak Harsoyo (60) beliau kesasar, alias ndak lihat kalau teman-temanya belok kiri di pertigaan Kuripan. O.k. lah, akhirnya semua pernah merasakan rute yang termasuk dataran tinggi di Pegunungan Tengger, dan komentarnya pun bermacam-macam…., maklum rentang usia pesertanya cukup panjang, mulai yang 35 tahun (mas Arif cs.) sampai 76 tahun (pak Pardi dkk.)
 Untuk membahas rencana bersepeda rutin dan tour pada tahun 2007, GSS Leces, akan mengadakan pertemuan seluruh anggota baik yang aktif maupun para simpatisan sejumlah hampir 100 orang, yang Insya Allah akan dilaksanakan pada : Hari Sabtu, tgl 3 Pebruari 2007 Bertempat di Leces Permai I/8 Probolinggo Sebelum acara pertemuan, seluruh anggota berkumpul di halte PT Kertas Leces pada pukul 05.30, kemudian bersepeda keliling kota Probolinggo dengan jarak lebih kurang 30 km, dan diharapkan pada pukul 08.00 sudah tiba di tempat acara tersebut. Diharapkan dalam acara tersebut, diperoleh masukan-masukan dari seluruh anggota untuk mencari rute untuk - Kegiatan rutin tiap sabtu - Rute para pensiunan setiap selasa dan kamis - Rute riding tour setiap 3 bulan sekali.
 Memasuki etape terakhir yaitu pantai Bambang – Pasirian yang jaraknya hanya 15 KM sebetulnya tidaklah berat. Akan tetapi matahari yang sudah semakin tinggi menjadi tantangan tersendiri. Lepas dari kawasan wisata pantai Bambang, jalanan aspal mulus banyak tertutup pasir menjadi kendala yang cukup mengganggu, karena disamping licin, kayuhan juga kurang optimal. Maklum daerah ini adalah pusat penambangan pasir gunung, muntahan dari gunung tertinggi di pulau Jawa yaitu Semeru.  Ditambah lagi jalur aspal ini terus menanjak tanpa ada turunan sama sekali sepanjang hampir 10 KM, sehingga sekalipun rute ini cukup pendek ternyata sangat menguras tenaga, dan tentu saja persediaan air harus diisi ulang. Benar saja, yang dikhawatirkan pun terjadi, rute yang cukup menantang ini membuat jarak peserta terdepan dan paling buncit cukup jauh. Lebih kurang 2 KM sebelum lokasi finish, seluruh peserta beristirahat di desa Bago, sambil menunggu anggota lainnya yang tercecer di belakang.  Selain itu, rusaknya sepeda milik pak Warib, menghambat laju peserta lainnya yang harus membantu agar sepeda tersebut bisa dikayuh lagi, paling tidak asal bisa finish di Pasirian. Sekalipun rantai harus dipotong, dan membuat rear derailleur tak bisa dipergunakan lagi akibat bengkok dihantam spoke.  Setelah seluruh anggota lengkap (minus pak Miswi tentunya), diberangkatkan lagi, dan tak sampai 10 menit kemudian rute berpindah ke jalanan tanah untuk menuju pos terakhir di rumah Mas Adi “Scott” yang bercambang lebat. Ternyata, disana masakan tradisional yang cukup menggiurkan sudah disiapkan oleh tuan rumah, diantaranya nasi jagung, sayur kelor, lodeh & pecek terong, pepes tongkol, dan lain sebagainya.  Tentu saja semua hidangan disantap dengan lahap tak bersisa, dan kemudian pak Nyoto dengan dibantu mas Adi yang punya wilayah, mencari pak Miswi yang “hilang” atau tersesat tak tentu rimbanya. Untung saja tak sampai setengah jam, pak Nyoto sudah kembali dengan membawa pak Miswi, yang wajahnya sudah memerah karena hampir ditinggal oleh seluruh anggota rombongan.  Beginilah kalau ada orang baru, teman-teman pengennya kasih pelajaran, jangan kapok lho pak ya…
 Lepas dari Jembatan Kali Pancing, rombongan pun melanjutkan ke arah kota Pasirian, akan tetapi selepas Jembatan kali mujur yang sungainya kering kerontang akibat kemarau panjang, rute dibelokkan ke kanan menuju ke arah Wana Wisata Watu Pecah.  Wana wisata adalah sebuah hutan buatan terletak di sisi selatan kota Lumajang dan berada di bibir pantai lautan hindia yang sangat dahsyat ombaknya, dan didalamnya ditanam aneka tanaman yang cocok dengan karakteristik tanah disana, akan tetapi yang paling dominan adalah tanaman kayu jati. Sekalipun demikian dibeberapa tempat terdapat budidaya tanaman pepaya.
 Disebut sebagai watu pecah, karena disana banyak sekali batu-batu yang berasal dari gunung semeru dan sudah mengalami abrasi oleh ombak laut selatan, sehingga memiliki teksture yang khas dan berlubang agak besar-besar berwarna hitam dan merah. Biasanya para pengepul batuan itu menjualnya seharga Rp 5000 s/d 10.000 setiap kantung plastik glangsing bekas bungkus beras 25 kg.
 Namun karena jalan yang dilalui adalah jalan tanah yang kadang berpasir, beberapa anggota rombongan sempat mengalami gangguan diantaranya Warib yang sepedanya sudah tak bisa dikayuh lagi, juga pak Miswi sang newbie yang sempat tercecer dan hilang dari rombongan.
Banyak anggota yang tidak bisa mengendalikan sepedanya dengan baik, karena sering terpeleset akibat konsentrasi kendali sepeda terganggu sambil menikmati pemandangan alam maupun pemandangan lain yang mungkin tidak diharapkan, karena tempat tersebut cukup sepi sehingga menjadi tempat berkumpulnya anak muda-mudi entah apa saja yang mereka kerjakan.
 Sayang sekali, cuaca yang mulai panas menyengat membuat kami semua kegerahan. Apalagi menjelang jalan raya menuju pantai Bambang, karena waktu sudah mulai siang, dan sang awan nampaknya tidak banyak lagi, sehingga persediaan air minum para peserta mulai menipis.
Setelah memasuki jalan raya yang ternyata sudah berada di wilayah wisata pantai Bambang, jalanan beraspal nang menurun menjadi sesuatu yang menyenangkan sekalipun panas matahari semakin menyengat, akibat semakin jarangnya rimbunan tanaman. Dan rombongan berhenti sejenak sambil menikmati deburan ombak laut selatan di pantai Bambang, disamping melalukan presensi anggota, dan ternyata anggotanya hilang 1 orang yaitu pak Miswi.
 Sempat pak Gigik sang satpol PP dan mas Tomo, menyisir ulang jalan yang baru saja dilalui, namun beliau tak juga diketemukan. Ah biar saja, toh sudah dewasa, nanti juga bisa pulang sendiri, ujar beberapa anggota yang lain. Akan tetapi pak Nyoto selaku pimpinan rombongan adalah pemimpin yang bertanggung jawab, karena beliau masih memikirkan anggotanya yang hilang diperjalanan.
 Sebagai penutup rangkaian tour bersepeda GSS Leces tahun 2006, dipilihlah rute menuju pantai selatan kota Lumajang, yang dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 24 Desember 2006. Sejak pukul 5 pagi beberapa anggota sudah siap untuk diberangkatkan dari halte bus PT Kertas Leces, sekalipun ada juga yang nekat berangkat menuju pos 1 di Kedungjajang dengan mengayuh sepedanya.  Setelah 40 orang berkumpul, pada pukul 5.30 kendaraan diberangkatkan ke arah kota Lumajang yang berjarak 35 KM arah Selatan Leces. Sesampai di pertigaan Kedung jajang, seluruh peserta menyiapkan tunggangan andalannya masing-masing. Sambil membetulkan beberapa perangkat yang mungkin agak mengalami perubahan, akibat berhimpit-himpitan di dalam bak truk fuso yang rupa-rupanya nyaris tidak mencukupi menampung keinginan anggota untuk bersepeda.
 Dalam rombongan kali ini juga terdapat para newbie diantaranya mas Alex, mas Rusminto dengan Astroz keluaran terbarunya, dan juga ada pak Miswi salah seorang anggota baru yang baru pensiun dari PT Kertas Leces.
 Didahului dengan penjelasan rute yang akan dilalui, dan dilanjutkan doa yang dipimpin bapak Haji Najib, tepat pukul 6.15 rombongan diberangkatkan menuju Lumajang dengan melalui desa Wonorejo (disana sudah menunggu Mas Supri yang nekat mengayuh sepedanya dari Leces sejak turun dari sholat subuh jam 04 pagi), Sukodono, Terminal lama, jalan Pelita, Klojen, Labruk, jalan Pasirian (bukan kota pasirian lho), dan terus menuju Tempeh.
 Selanjutnya rombongan menuju Jembatan Kali pancing, dan sempat beristirahat sejenak untuk menunggu beberapa anggota yang tercecer di belakang, mengingat beberapa peserta diantaranya berusia lanjut sebut saja pak Syafi’i (73 tahun), pak Matrupi (68 tahun), pak Samad (61 tahun), dan masih banyak lagi yang telah memasuki usia balita (dibawah lima puluh sembilan tahun) diantaranya pak Mislan, pak Tumin, pak Musyair, dan tentu saja Pak Suhono serta masih banyak lagi yang lainnya.
| |